Persamaan Reaksi Kimia

Persamaan reaksi

Reaksi kimia merupakan contoh yang paling sesuai untuk perubahan kimia. Pada reaksi kimia, satu zat atau lebih diubah menjadi zat baru. Zat-zat yang bereaksi disebut pereaksi (reaktan). Zat baru yang dihasilkan disebut hasil reaksi (produk). Hubungan ini dapat ditulis sebagai berikut.

Pereaksi & Hasil reaksi

atau Reaktan & Produk

Gambar 4.

Jika larutan timbal (II) nitrat dan kalium iodida dicampur, terbentuk padatan berwarna kuning menyala. Padatan kuning tersebut, timbal (II) iodida, terdapat di dasar gelas kimia, dan cairan dalam gelas kimia adalah larutan kalium nitrat

Jika reaksi kimia yang ditunjukkan pada Gambar 4 ditulis, mungkin akan terlihat sebagai berikut:

Timbal (II) nitrat padat yang terlarut dalam air, ditambah kalium iodida padat yang terlarut dalam air, menghasilkan kalium nitrat yang terlarut dalam air dan timbal (II) iodida padat.

Urutan kata-kata tersebut agak panjang dan tidak praktis. Akan tetapi, semua informasi dalam pernyataan ini penting. Hal yang sama juga terjadi pada sebagian besar reaksi kimia, banyak kata-kata yang dibutuhkan untuk menyatakan semua informasi penting. Akibatnya, para ilmuwan mengembangkan metode menulis cepat untuk menggambarkan reaksi kimia. Persamaan reaksi kimia adalah suatu pernyataan yang menggambarkan reaksi kimia menggunakan rumus kimia dan lambang-lambang lain. Pada pembahasan lambang unsur anda telah mempelajari

bagaimana menggunakan lambang-lambang kimia. Beberapa lambang lain yang digunakan pada persamaan reaksi kimia:

menghasilkan

+       ditambah

(s)      padatan (s = solid)

(g)     gas (g = gas)

(l)       cairan atau leburan (l = liquid)

(aq)    terlarut dalam air (aq = aquous)

Bagaimana persamaan reaksi kimia untuk reaksi pada Gam bar 3?

Pb(NO3)2(aq) + 2Kl(aq) Pbl2(s) + 2KNO3(aq).

Lambang-lambang di sebelah kanan rumus-rumus tersebut adalah (s) untuk padatan, dan (aq) untuk larutan, yang berarti “terlarut dalam air”.

Koefisien

Apa arti angka-angka di sebelah kiri rumus pereaksi dan hasil reaksi? Ingat bahwa hukum kekekalan massa menyatakan bahwa massa zat tidak berubah selama reaksi kimia. Atom-atom disusun ulang, namun tidak hilang atau musnah. Angka-angka ini, yang disebut koefisien, mewakili jumlah unit masing-masing zat yang berperan dalam reaksi. Misalnya, dalam reaksi diatas, satu unit Pb(NO)3(aq) bereaksi dengan dua

Gambar 4. Gambaran reaksi antara Pb(NO)3(aq) dengan KI

unit KI dan menghasilkan satu unit PbI2 dan dua unit KNO3. Gambar 4 akan membantumu memahami reaksi ini.

Bagaimana cara menentukan koefisien-koefisien dalam suatu reaksi kimia? Dalam bagian berikut anda akan mengetahui bagaimana cara menentukan koefisien pada persamaan reaksi kimia.

Mengecek Kesetaraan Persamaan Reaksi Kimia

Bercak perak adalah perak sulfida, Ag2S. Senyawa ini terbentuk

ketika senyawa yang mengandung belerang di udara atau ma kanan bereaksi dengan perak. Penulisan persamaan reaksi kimia ini adalah.

Ag(s) + H2S(g) → Ag2S(s) + H2(g).

Sekarang perhatikan persamaan tersebut. Ingat bahwa zat tidak tercipta atau musnah dalam reaksi kimia. Perhatikan bahwa terdapat satu atom perak pada pereaksi, yaitu Ag(s). Akan tetapi, terdapat dua atom perak dalam hasil reaksi, yaitu Ag2S(s). Satu atom perak tidak dapat

begitu saja menjadi dua. Persamaan tersebut harus disetarakan sehingga dapat menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi dalam reaksi tersebut. Persamaan reaksi kimia yang setara mempunyai jumlah atom masing-masing unsur yang sama pada kedua ruas persamaan tersebut. Untuk memastikan apakah persamaan itu setara, buatlah bagan yang ditunjukkan dalam Tabel berikut.

Atom Jumlah atom
Ag +  H2S Ag2S   +  H2
Ag

H

S

1

2

1

2

2

1

Jumlah atom hidrogen dan jumlah atom belerang setara. Namun terdapat dua atom perak di sebelah kanan sedangkan di sebelah kiri hanya satu. Persamaan tersebut tidak setara. Untuk menyetarakan persamaan, jangan mengubah angka pada rumus yang sudah benar. Letakkan angka

koefisien di sebelah kiri rumus pereaksi dan hasil reaksi sehingga jumlah atom perak pada kedua sisi. Jika tidak ditulis angkanya, berarti koefisien tersebut satu.

Bagaimana anda menentukan koefisien yang digunakan untuk menyetarakan persamaan tersebut? Penentuan ini biasanya merupakan proses mencoba-coba. Jika terlatih, proses tersebut menjadi mudah.

Pada persamaan reaksi kimia bercak perak, atom-atom belerang dan hidrogen sudah setara. Tidak perlu menambahkan koefisien didepan rumus-rumus yang mengandung atom-atom ini. Kemudian perhatikan rumus-rumus yang mengandung atom-atom perak: Ag dan Ag2S. Di sisi kanan terdapat dua atom perak, sedangkan di sisi kiri hanya terdapat satu. Jika ditambahkan koefisien 2 didepan Ag, persamaan tersebut menjadi setara, seperti ditunjukkan dalam Tabel berikut.

Atom Jumlah atom
2Ag +  H2S Ag2S   +  H2
Ag

H

S

2

2

1

2

2

1

2Ag(s) + H2S(g) Ag2S(s) + H2(g).

Langkah-langkah menyetarakan Reaksi Kimia

Cara tabel (langsung)

Jika sepotong pita magnesium terbakar dalam labu berisi oksigen, terbentuklah serbuk putih yang disebut magnesiun oksida. Untuk menulis persamaan reaksi kimia yang setara untuk sebagian besar reaksi, ikuti 4 langkah berikut ini.

Langkah 1. Gambarkan reaksi dalam kata-kata, letakkan pereaksi disisi kiri dan hasil reaksi di sebelah kanan. Magnesium plus oksigen menghasilkan magnesium oksida.

Langkah2.   Tulis persamaan reaksi kimia untuk reaksi tersebutmenggunakan rumus-rumus dan lambang-lambang. Rumus untuk unsur-unsur umumnya hanya lambang-lambang. Akan tetapi, harus diperhatikan bahwa oksigen adalah molekul diatomik, O2. Mg(s) + O2(g) →MgO(s).

Langkah 3.     Hitunglah atom dalam persamaan. Buatlah bagan (tabel) untuk membantumu. Atom-atom magnesium sudah setara, namun atom-atom oksigen belum. Oleh karenanya persamaan ini belum setara.

Atom Jumlah atom
Mg   +   O2 MgO
Mg

O

1

2

1

1

Langkah 4.     Tentukan koefisien yang menyetarakan persamaan tersebut. Ingat, untuk menyetarakan persamaan jangan mengubah angka pada rumus yang sudah benar. Coba dengan memberi koefisien 2 di depan MgO untuk menyetarakan oksigen. Mg(s) + O2(g) 2MgO(s)

Sekarang terdapat dua atom Mg di sisi kanan sedangkan di sisi kiri hanya

satu jadi koefisien 2 juga dibutuhkan oleh Mg. 2Mg(s) + O2(g) 2MgO(s).

Atom Jumlah atom
2Mg   +   O2 2MgO
Mg

O

2

2

2

2

Contoh

Tuliskan reaksi berikut dan setarakan

a.  Logam tembaga direaksikan dengan padatan belerang menghasilkan
tembaga (I) sulfida, Cu2S.

b.  Logam natrium direaksikan dengan air menghasilkan larutan
natrium hidroksida (NaOH) dan gas hidrogen.

Jawab a.

Atom Jumlah atom
2Cu   +   S Cu2S
Cu S 2

1

2

1

2Cu(s) + S(s) Cu2S(s)

b.

Atom Jumlah atom
2Na   + 2H2O 2NaOH + H2
Na

H

O

2

4

2

2

4

2

2Na(s) + 2H2O(l) 2NaOH(aq) + H2(g)

Cara abc (Substitusi)

Cara ini dilakukan dengan memberi koefisien sementara dengan huruf a,b,c,d dan seterusnya. Kemudian melakukan substitusi dengan berpedoman bahwa jumlah masing-masing atom di ruas kiri dama dengan jumlah atom pada ruasn kanan. Langkah-langkah:

Langkah 1 : memberi koefisien sementara, pilih rumus kimia yang paling kompleks dan berilah koefisien 1, sedangkan yang lainnya berilah koefisien a, b, c, dan seterusnya

Langkah 2 : menyelesaikan secara substitusi, dengan prinsip jumlah masing-masing atom di ruas kiri = ruas kanan

Langkah 3   :    menuliskan hasil akhir

Contoh:

Setarakan reaksi Mg(s) + O2(g) → MgO(s).

Jawab:

Langkah 1. rumus kimia yang paling kompleks MgO

a Mg + b O2 → MgO langkah 2.

Jumlah di ruas kiri = jumlah di ruas kanan Hasil
Atom Mg a =    1 a = 1
Atom O 2b =    1 b= 1/2

Langkah 3.

Mg + O2 2 MgO

Agar koefisien tidak pecahan, maka kalikan dengan 2, sehingga:

2 Mg + O2→ 2 MgO

Setarakan reaksi:

C7H16 + O2 CO2 + H2O Jawab

Langkah 1:        rumus kimia paling kompleks C7H16 1C7H16 + a O2 b CO2 + c H2O

Langkah 2:

Jumlah di ruas kiri = jumlah di ruas kanan Hasil
Atom C 7 =    b b = 7
Atom H 16 =    2c c = 8
Atom O 2a =    2b + c 2a =    (2 x 7)+ 8 2a =    22 a = 11

Setarakan reaksi: Al + H2SO4 Al2(SO4)3 + H2

Jawab

Langkah 1:        Rumus kimia paling kompleks Al2(SO4)3

a Al + b H2SO4 1 Al2(SO4)3 + c H2 langkah 2:

Jumlah di ruas kiri = jumlah di ruas kanan Hasil
Atom Al a =    2 a = 2
Atom S b =    3 b = 3
Atom O 4b =    12 b = 3
Atom H 2b =    c 2 x 3 =    c c = 6

Langkah 3.        2Al + 3H2SO4 Al2(SO4)3 + 6H2

Posted in Materi Kelas X | Leave a comment

Konsep Keadaan Setimbang

Konsep Keadaan Setimbang

Reaksi-reaksi yang dilakukan di laboratorium pada umumnya berlangsung satu

arah.

Contoh : HCl + NaOH à NaCl + H2O

Dalam reaksi diatas setelah salah satu pereaksi habis bereaksi maka reaksi akan

berhenti. Atau dengan kata lain NaCl dan H2O yang dihasilkan tidak bisa saling

bereaksi menghasilkan HCl dan NaOH. Reaksi-reaksi semacam ini yang selama

ini sudah dipelajari. Tetapi ada juga rekasi yang dapat berlangsung dua arah atau

dapat balik. Pada reaksi ini hasil reaksi dapat berubah lagi menjadi zat-zat

semula. Reaksi semacam ini disebut juga reaksi dapat balik atau reaksi

reversibel. Salah satu contoh adalah jika kita panaskan kristal tembaga (II) sulfat

hidrat yang berwarna biru akan berubah menjadi putih, yaitu tembaga (II) sulfat

karena airnya menguap. Dan jika pada tembaga (II) sulfat diteteskan air, maka

akan berubah lagi menjadi kristal biru, yaitu tembaga (II) sulfat hidrat.

Reaksinya sebagai berikut :

CuSO4 . 5H2O(S) ® CuSO4(S) + 5H2O(g)

biru putih

CuSO4(S) + 5H2O(I) ® CuSO4 . 5H2O(S)

putih biru

Reaksi tersebut termasuk reaksi yang dapat balik, maka dapat ditulis dengan

tanda panah yang berlawanan,

CuSO4 . 5H2O(S)           CuSO4(S) + 5H2O(I)

Apabila dalam suatu reaksi dapat balik yang terjadi dalam satu sistem, kecepatan

reaksi ke kanan sama dengan kecepatan reaksi ke kiri, maka reaksi dikatakan

dalam keadaan setimbang atau sistem kesetimbangan. Sistem kesetimbangan

semacam ini banyak terjadi pada reaksi-reaksi dalam wujud gas

Pada kenyataannya ketika CuSO4 . 5H2O kita biarkan dalam udara bebas dan

warnanya menjadi pudar, seakan-akan reaksi berhenti, padahal sesungguhnya

terus terjadi reaksi bolak-balik. Kondisi inilah yang disebut reaksi telah mencapai

kesetimbangan. Karena pada hakekatnya reaksi tidak berhenti tetapi terus

berjalan tetapi tidak dapat dilihat dengan mata kepala kita, maka dikatakan

sebagai kesetimbangan dinamis. Contoh sistem yang mengalami keadaan setimbang dinamis adalah peristiwa penguapan air pada suatu botol yang

tertutup.

  • · Pada botol terbuka air akan menguapdan lama kelamaan akan berkurang.
  • · Pada botol tertutup air jumlahnya tetap.

Apakah pada botol tertutup air tidakmenguap ?

Pada botol tertutup, air tetap menguap tetapi mengembun lagi menjadi air.

Kecepatan air menguap sama dengan kecepatan mengembun lagi sehingga

jumlah air kelihatannya tetap. Perubahan air menjadi uap dan sebaliknya tidak

tampak, padahal kenyataannya selalu berubah. Peristiwa ini termasuk contoh

kesetimbangan dinamis, karena proses penguapan dan pengembunan berlangsung

terus menerus pada waktu yang sama.

Salah satu contoh reaksi dalam keadaan setimbang dinamis yang mudah diamati

adalah reaksi antara larutan besi (III) klorida dengan larutan kalium sianida yang

menghasilkan ion besi (III) sanida.

Fe3+(aq) + SCN(aq) ® Fe (SCN)2+(aq)

Apabila reaksi reaksi tersebut tidak dapat balik, maka kedua pereaksi akan habis

karena jumlah molnya sama. Tetapi karena reaksi tersebut dapat balik, maka

apabila pada hasil reaksi atau Fe (SCN)+2 ditambahkan satu tetes KSCN 1 M,

ternyata warna merah bertambah. Hal ini disebabkan ion SCN- yang ditambahkan

bereaksi lagi dengan ion Fe+3 yang berasal dari ion Fe(SCN)+2 sebelum

ditambahkan yang terurai lagi. Reaksinya dapat ditulis sebagai berikut :

Fe3+(qa) + SCN(aq)             Fe(SCN)2+(aq)

Pada reaksi ini pembentukan Fe(SCN)2+ dan penguraiannya menjadi ion Fe+3 dan

SCN- tidak dapat diamati, karena berlangsung pada tingkat partikel. Reaksi ini

berada pada keadaan setimbang dinamis, yaitu reaksi berlangsung terus menerus

dengan arah yang berlawanan dan kecepatan yang sama.

Ciri-ciri keadaan setimbang dinamis :

– Reaksi berlangsung terus-menerus dengan arah yang berlawanan

– Terjadi pada ruangan tertutup, suhu, dan tekanan tetap.

– Laju reaksi ke arah hasil reaksi dan ke arah pereaksi sama.

– Tidak terjadi perubahan makroskopis, yaitu perubahan yang dapat diukur atau

dilihat, tetapi perubahan mikroskopis (perubahan tingkat partikel) tetap

berlangsung.

– Setiap komponen tetap ada.

Pada saat setimbang, ada beberapa kemungkinan yang terjadi dilihar dari

konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi pada saat itu

Hal lain yang menarik untuk dikaji adalah proses menuju kesetimbangan.

Dilihat dari konsentrasi pereaksi dan hasil reaksi ada beberapa kemungkinan

yang terjadi.

Contoh : pada reaksi A + B         C + D

– Kemungkinan pertama

  • · Mula-mula konsentrasi A dan Bharganya maksimal, kemudian berkurang sampai tidak ada

perubahan.

  • · Konsentrasi C dan D dari nolbertambah terus sampai tidakada perubahan.
  • · Pada saat setimbang konsentrasi C dan D lebih besar daripada Adan B

– Kemungkinan kedua

  • · Mula-mula konsentrasi A dan B harganya maksimal, kemudian berkurang sampai tidak ada

perubahan.

  • · Konsentrasi C dan D dari nol bertambah terus sampai tidakada perubahan.
  • · Pada saat setimbang konsentrasi A dan B lebih besar daripada C dan D.

– Kemungkinan ketiga

  • · Mula-mula konsentrasi A dan B harganya maksimal, kemudian berkurang sampai tidak ada

perubahan.

  • · Konsentrasi C dan D dari nolbertambah terus sampai tidak ada perubahan.
  • · Pada saat setimbang konsentrasi A dan B sama besar dengan C dan D.
Posted in Materi Kelas XI | Leave a comment

Tata nama Senyawa

Media pembelajaran tata nama senyawa

TANA NAMA SENYAWA

Posted in media pembelajaran kelas x | Leave a comment

Hubungan tingkat keasaman dengan pH

Bila Anda perhatikan, nilai pH merupakan eksponen negatif dari konsentrasi ion hidronium. Sebagai contoh, larutan basa kuat dengan konsentrasi ion hidronium 10-11 M mempunyai pH 11. Larutan asam kuat dengan pH 1 mempunyai konsentrasi ion hidronium 10-1 M. Hal ini dikarenakan asam/basa kuat terionisasi sempurna, maka konsentrasi ion H+ setara dengan konsentrasi asamnya.
37
Berdasarkan uraian di atas, karena pH dan konsentrasi ion H+ dihubungkan dengan tanda negatif, maka kedua besaran itu berbanding terbalik, artinya makin besar konsentrasi ion H+ (makin asam larutan) maka makin kecil nilai pH, dan sebaliknya. Selanjutnya, karena dasar logaritma adalah 10 maka larutan yang nilai pH-nya berbeda sebesar n dan mempunyai perbedaan konsentrasi ion H+ sebesar 10n. Bila pH berkurang, konsentrasi ion hidronium akan meningkat, dan konsentrasi ion hidroksida berkurang. Pada setiap unit penurunan pH sama dengan peningkatan faktor 10 untuk konsentrasi ion hidronium.
Sebagai contoh, larutan dengan pH 4 dan larutan dengan pH 3 keduanya bersifat asam, karena mempunyai pH kurang dari 7. Larutan dengan pH 3 mempunyai konsentrasi H3O+ 10 kali lebih besar
dari pada larutan dengan pH 4, sehingga perubahan kecil dalam pH dapat membuat perubahan besar dalam konsentrasi ion hidronium. Bila pH meningkat di atas 7, konsentrasi ion hidroksida akan meningkat, dan konsentrasi ion hidronium akan berkurang. Dalam larutan netral, konsentrasi ion hidroksida dan ion hidronium adalah sama.
Posted in Materi Kelas XI | Leave a comment

Ikatan Kimia

Ikatan kimia pada prinsipnya berasal dari interaksi antar elektron-elektron yang ada pada orbit luar, atau orbit yang terisi sebagian atau orbit bebas dalam atom lainya.
1. Interaksi atom-atom logam (ikatan metalik/ikatan logam).
Dalam interaksi antar atom logam, ikatan kimia dibentuk oleh gaya tarik menarik-menarik elektron oleh inti (nucleus) yang berbeda. Asalnya elektron milik satu atom yang ditarik oleh inti atom tetangganya yang bermuatan +, dan elektron ini disharing dg gaya tarik yang sama oleh inti lain yang mengitarinya. Akibat jumlah elektron valensi yang rendah dan terdapat jumlah ruang kososng yang besar, maka e memiliki banyak tempat untuk berpindah. Keadaan demikian menyebabkan e dapat berpindah secara bebas antar kation-kation tersebut. Elektron ini disebut “delocalized electron” dan ikatannya juga disebut “delocalized bonding”.
Elektron bebas dalam orbit ini bertindak sebagai perekat atau lem. Kation yang tinggal berdekatan satu sama lain saling tarik menarik dengan elektron sebagai semennya.
2. Ikatan kovalen2.1. Ikatan dengan non logam            Pada prinsipnya semua ikatan kimia berasal dari gaya tarik menarik inti (nucleus) yang bermuatan + terhadap e yang bermuatan negatif, Gaya tarik menarik ini ditentukan oleh Hukum Coulomb.
F =                                         F              : Gaya tarik menarik atau tolak menolak                         Q1 dan Q2 : Muatan partikel 1 dan 2                        r               : Jarak antara partikel 1 dan 2                        k              : Konstante dielektrikBila Q1 dan Q2 bermuatan sama, maka keduanya akan tolak-menolak, sebaliknya bila Q1 dan Q2 bermuatan berlawanan akan terjadi tarik menarik.Ikatan kovalen terbentuk, karena hampir semua unsur memiliki ruang kosong dan orbit luar berenergi rendah. Makin rendah energi suatu orbit, nakin tinggi stabilitas elektron yang ada di dalamnya. Semua unsur non-logam memiliki paling tidak 4 dari 8elektron yang mungkin berada pada orbit luar, kecuali: H, He, dan B.        Perbedaan unsur non-logam dengan logam adalah tidak memiliki kelebihan ruang kosong yang berenergi rendah untuk penyebaran elektron yang akan disharing. Elektron yang dapat disharing dalam unsur non-logam tidak mengalami “delocalised” seperti pada ikatan metalik (ikatan logam). Jadi elektron ini tinggal terlokalisir dalam kedekatan antar 2 inti (ikatan kovalen).Contoh: pembentukan H2 dari 2 atom H. Pada molekul H2 ada 3 gaya yang bekerja yaitu:a). Gaya tolak-menolak antara 2 intib). Gaya tolak-menolak antara 2 elektronc). Gaya tarik-menarik antara inti dari satu atom dengan elektron dari atom yang lainnya. Besarnya gaya c ini lebih besar dari jumlah gaya a dan b.

H
H

Ikatan kovalen pada H2, 2 elektron disharing oleh 2 atom dan orbit dari 2 elektron itu juga disharing oleh 2 atom.Ikatan kovalen: gaya tarik-menarik bersih (net) yang terjadi ketika setiap atom memasok 1 elektron yang tidak berpasangan untuk dipasangkan dengan yang lain, dan ada satu ruang kosong untuk menerima elektron dari atom yang lain, sehingga 2 elektron ditarik oleh kedua inti atom tersebut.
2.2. Valensi atau kekuatan penggabungan        Valensi suatu atom adalah jumlah ikatan kovalen yang dapat terbentuk. Contoh: valensi H = 1, He = 0, F = 1, O = 2, Li =1.

3. Ikatan non-logam dengan logam        Pasangan elektron yang membentuk suatu ikatan antara atom logam dan non-logam terletak pada orbit yang overlap antara 2 atom tersebut. Karena atom non logam tidak mempunyai ruang kosong dengan energi rendah, maka elektron akan tersebar pada daerah orbit yang overlap.        Atom dari unsur yang berbeda memiliki kemampuan yg berbeda dalam menarik pasangan elektron dalam suatu ikatan kovalen.F, O, Cl    : kemampuan menariknya kuatNa, K       : kemampuan menariknya lemah.Elektro-negativitas: kemampuan relatif suatu unsur untuk memenuhi muatan listrik yang negatif.

2.4. Ikatan ionic (elektro-valent, hetero-polar)        Ikatan ini berasal dari gaya tarik elektrostatik antara ion yang bermuatan berlawnan [Kation (+) dan anion (-)]. (Hukum Coulomb)        Untuk sebagian besar unsur, proses pelepasan atau penambatan elektron adalah proses endotermik (membutuhkan energi). Ini berarti bahwa bentuk ion adalah kurang stabil dibandingkan atom yang tak bermuatan.        Na           Na+ +  (-)  –  energi        ½O2 +  2 (-)             O-2 –  energiSenyawa yang memiliki derajat paling tinggi dalam ikatan ionik adalah yang terbentuk oleh reaksi antara unsur alkali dengan halogen. Contoh:   Na  +  Cl          NaCl.
Keduanya memiliki perbedaan elektronegativitas yang besar, sehingga pasangan elektron yang membentuk ikatan lebih banyak tertarik oleh atom Cl. Makin besar perbedaan elektro-negativitasnya makin besar pula karakter ioniknya. Namun ada kekecualian untuk F dan Cs, F memiliki elektro-negativitas paling kuat, sedang Cs memiliki elektro-negativitas paling lemah, sehingga ikatannya tidak sepenuhnya ionik. Bagaimanapun juga ikatan kovalen murni ada dalam molekul yang tersusun oleh molekul yang sama (H2, Cl2, C-C) atau molekul yang tersusun dari atom yg memiliki elektro-negativitas yang hampir sama, contoh: C-H.

Dari bermacam-macam ikatan dapat disimpulkan sbb:a). Senyawa dengan ikatan kovalen yang dominan, elektron dari ikatan berada pada atom yang membuat ikatan. Diantara molekul yang berbeda ada ikatan yang lemah yang disebut “gaya van der Waals”. Hal yang sama terjadi untuk senyawa dengan “ikatan kovalen koordinat”. Molekul yang berbeda membentuk satuan-satuan yang terpisah. Dalam molekul ini jarak antar atom dalam molekul lebih kecil dari jarak antara atom dan molekul didekatnya.
b). Senyawa dengan ikatan metalik dan ionik yang dominan, ikatan itu dibuat oleh elektron-elektron yang disharing. Dalam logam gaya tarik berasal dari “delocalised electron”, sedang dalam senyawa ionik berasal dari gaya tarik menarik antara ion positif dan negatif. Dalam senyawa ini, partikel-partikel bermuatan diposisikan pada jarak yg sama satu dengan yang lainnya, sehingga tidak ada kemungkinan untuk membedakan atau memisahkan molekul yang utuh (discrete). Dalam logam, setiap atom biasanya diposisikan pada jarak yang sama dari 6, 8 atau 12 atom yang lainnya yang menunjukkan bahwa ikatan dengan seluruh atom-atom yang berbeda ini memiliki kekuatan yang sama.
Dalam bentuk padat, struktur ionik seperti NaCl, setiap Na+ dikelilingi oleh 6 Cl pada jarak yang sama, setiap Cl dikelilingi oleh 6 Na+ juga pada jarak yang sama, yang menunjukkan bahwa setiap Na+ ditarik oleh 6 Cl dg kekuatan yang sama, setiap Cl juga ditarik oleh 6 Na+ dg kekuatan yang sama. Bentuk pada ini hanya larut dalam pelarut polar (air) yang dapat memutus ikatan ionik dengan sifat polaritasnya dan membentuk ion hidrat (ion yang diseliputi dengan mantel air).

Posted in Materi Kelas X | Leave a comment

media pembelajaran struktur atom

Media pembelajaran struktur atom dalam ppt

STRUKTUR ATOM

Posted in media pembelajaran kelas x | Leave a comment

Termokimia

Termokimia

a. Reaksi Eksoterm

Pada reaksi eksoterm terjadi perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan atau pada reaksi tersebut dikeluarkan panas.
Pada reaksi eksoterm harga ∆H = ( – )

Contoh : C(s) + O2(g)  —>  CO2(g) + 393.5 kJ ; ∆H = -393.5 kJ

b. Reaksi Endoterm

Pada reaksi endoterm terjadi perpindahan kalor dari lingkungan ke sistem atau pada reaksi tersebut dibutuhkan panas.
Pada reaksi endoterm harga ∆H = ( + )

Contoh : CaCO3(s) —->  CaO(s) + CO2(g) – 178.5 kJ ; ∆H = +178.5 kJ

Entalpi = H = Kalor reaksi pada tekanan tetap = Qp
Perubahan entalpi adalah perubahan energi yang menyertai peristiwa perubahan kimia pada tekanan tetap.

a. Pemutusan ikatan membutuhkan energi (= endoterm)
Contoh: H2 —>   2H – a kJ ; ∆H= +akJ
b. Pembentukan ikatan memberikan energi (= eksoterm)
Contoh: 2H —->   H2 + a kJ ; DH = -a kJ

Istilah yang digunakan pada perubahan entalpi :

1. Entalpi Pembentakan Standar ( DHf ):
DH untak membentuk 1 mol persenyawaan langsung dari unsur-unsurnya yang diukur pada 298 K dan tekanan 1 atm.

Contoh: H2(g) + 1/2 O2(g) —->   H20 (l) ; DHf = -285.85 kJ

2. Entalpi Penguraian:
DH dari penguraian 1 mol persenyawaan langsung menjadi unsur-unsurnya (= Kebalikan dari DH pembentukan).

Contoh: H2O (l) —->   H2(g) + 1/2 O2(g) ; DH = +285.85 kJ

3. Entalpi Pembakaran Standar ( Hc ):
DH untuk membakar 1 mol persenyawaan dengan O2 dari udara yang diukur pada 298 K dan tekanan 1 atm.

Contoh: CH4(g) + 2O2(g) ®   CO2(g) + 2H2O(l) ; DHc = -802 kJ

4. Entalpi Reaksi:
DH dari suatu persamaan reaksi di mana zat-zat yang terdapat dalam persamaan reaksi dinyatakan dalam satuan mol dan koefisien-koefisien persamaan reaksi bulat sederhana.

Contoh: 2Al + 3H2SO4 —->  Al2(SO4)3 + 3H2 ; DH = -1468 kJ

5. Entalpi Netralisasi:
DH yang dihasilkan (selalu eksoterm) pada reaksi penetralan asam atau basa.

Contoh: NaOH(aq) + HCl(aq) ®   NaCl(aq) + H2O(l) ; DH = -890.4 kJ/mol

6. Hukum Lavoisier-Laplace
“Jumlah kalor yang dilepaskan pada pembentukan 1 mol zat dari unsur-unsurya = jumlah kalor yang diperlukan untuk menguraikan zat tersebut menjadi unsur-unsur pembentuknya.”
Artinya : Apabila reaksi dibalik maka tanda kalor yang terbentuk juga dibalik dari positif menjadi negatif atau sebaliknya

Contoh:
N2(g) + 3H2(g) ®   2NH3(g) ; DH = – 112 kJ
2NH3(g) ®   N2(g) + 3H2(g) ; DH = + 112 kJ

PENENTUAN PERUBAHAN ENTALPI

Untuk menentukan perubahan entalpi pada suatu reaksi kimia biasanya digunakan alat seperti kalorimeter, termometer dan sebagainya yang mungkin lebih sensitif.

Perhitungan : DH reaksi = S DHfo produk – S DHfo reaktan

HUKUM HESS

“Jumlah panas yang dibutuhkan atau dilepaskan pada suatu reaksi kimia tidak tergantung pada jalannya reaksi tetapi ditentukan oleh keadaan awal dan akhir.”

Contoh:

C(s) + O2(g) ®   CO2(g) ; DH = x kJ ®   1 tahap
C(s) + 1/2 02(g) ®   CO(g) ; DH = y kJ ®   2 tahap
CO(g) + 1/2 O2(g) ®   CO2(g) ; DH = z kJ
———————————————————— +
C(s) + O2(g) ®   CO2(g) ; DH = y + z kJ

Menurut Hukum Hess : x = y + z

Reaksi kimia merupakan proses pemutusan dan pembentukan ikatan. Proses ini selalu disertai perubahan energi. Energi yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan kimia, sehingga membentuk radikal-radikal bebas disebut energi ikatan. Untuk molekul kompleks, energi yang dibutuhkan untuk memecah molekul itu sehingga membentuk atom-atom bebas disebut energi atomisasi.

Harga energi atomisasi ini merupakan jumlah energi ikatan atom-atom dalam molekul tersebut. Untuk molekul kovalen yang terdiri dari dua atom seperti H2, 02, N2 atau HI yang mempunyai satu ikatan maka energi atomisasi sama dengan energi ikatan Energi atomisasi suatu senyawa dapat ditentukan dengan cara pertolongan entalpi pembentukan senyawa tersebut. Secara matematis hal tersebut dapat dijabarkan dengan persamaan :

DH reaksi = S energi pemutusan ikatan – S energi pembentukan ikatan
= S energi ikatan di kiri – S energi ikatan di kanan

Contoh:

Diketahui :

energi ikatan

C – H = 414,5 kJ/Mol
C = C = 612,4 kJ/mol
C – C = 346,9 kJ/mol
H – H = 436,8 kJ/mol

Ditanya:

DH reaksi = C2H4(g) + H2(g) ®   C2H6(g)

DH reaksi = Jumlah energi pemutusan ikatan – Jumlah energi pembentukan ikatan
= (4(C-H) + (C=C) + (H-H)) – (6(C-H) + (C-C))
= ((C=C) + (H-H)) – (2(C-H) + (C-C))
= (612.4 + 436.8) – (2 x 414.5 + 346.9)
= – 126,7 kJ
Posted in Materi Kelas XI | Leave a comment